Menyoal Cover Majalah Tempo

Posted by: "Goenawan Mohamad"
Tue Feb 5, 2008 5:58 pm (PST)

Tentu tidak ada maksud majalah TEMPO untuk melukai hati orang Kristen, tetapi tidak berarti tidak ada yang salah dalam gambar itu. Menurut hemat saya, menggunakan tema "Perjamuan Terakhir" dalam karya Leonardo da Vinci jadi dasar tema kepergian Suharto sama sekali tidak tepat. Tema dan suasana "Perjamuan Terakhir" dalam lukisan itu adalah kesedihan, keprihatinan dan kerelaan di antara mereka yang tak punya apa-apa. Sedang justru itu yang tak ada di hari terakhir Suharto. Suharto tidak mati disalib. Juga saya ragu apakah kematiannya akan melahirkan keyakinan baru. Dan yang jelas, yang dibagi-bagikannya (dan dinikmati anak-anaknya) bukanlah potongan roti dan beberapa reguk anggur, melainkan kekayaan yang berlimpah-limpah, yang didapat karena kekuasaan politik

Saya senang bahwa ada protes tapi tak ada kekerasan. Saya senang bahwa dengan tulus pimpinan TEMPO minta maaf, dan Sekjen KWI memberikan maafnya. Itu tanda kita masih bersedia menjaga peradaban.

Ya itulah kata arif dari seorang Goenawan Muhammad tentang kontroversi cover majalah Tempo tentang Soeharto.

Sebagai seorang katolik , saya pun nggak akan protes tentang pemuatan cover itu, mestinya kalau ada yang protes  yang berhak adalah keturunan daripada Leonardo Da Vinci. Cover itu hanya menunjukkan bahwa majalah Tempo mulai nggak menarik, mulai ditinggalkan pembacanya sehingga perlu untuk mencari-cari sensasi untuk menarik orang melirik kembali. Tapi pemelesetan lukisan The Last Supper itu terlalu dangkal dan salah arah dilihat dari latar belakang dari kedua peristiwa yang sangat jauh berbeda. Maka sudah selayaknya kita bertanya kepada majalah Tempo, apa yang sebenarnya kalian cari.

Beruntung bahwa saya tidak termasuk orang yang mudah terpancing hal-hal kaya gini. Bagi saya yang terpenting adalah kita harus mampu membedakan masalah iman, ideologi dan identitas. Kalau kita mencampur adukkan ketiga hal tersebut maka pasti hanya kekisruhan yang bakal terjadi. Jadi sekali lagi saya tidak akan protes dengan cover majalah Tempo, protes buat apaan, biarkan saja. Buat Majalah Tempo terbitkan lagi majalahmu tapi jangan dengan sensasi yang ngga ada korelasinya ya, itu murahan.

7 Tanggapan

  1. Iya, betul banget. Tempo membuat sensasi murahan. Tapi targetnya sudah benar, yaitu umat Kristiani yang penuh kasih sehingga tidak akan ada kisruh. Coba kalau agama lain, bisa2 terjadi huru-hara.

    (** Kabur **)

  2. Apa yang dilakukan majalah TEMPO memang patut sipertanyakan, terutama oleh umat Kristiani? Apa motif dibalik semuanya?….buat majalah sekaliber TEMPO yang laporan investigatifnya begitu dalam saya rasa menjadi tidak layak bila ia mencoba menampilkan hal yang seharusnya tidak santun…..saatnya buat majalah TEMPO agar bisa menyatakan “TOBAT” atas pemuatan hal-hal yang sensitif yang bernuansa “provokatif”, “melecehkan”…..bila tidak maka saya tidak habis pikir lagi……..kasihan donk kalau ada diantara kita justeru menjadi salah tapsir….dan akibatnya…..banyak. kena orang kristiani memang terkesan “diam”, coba kena yang lainnya……….? namn demikian, pintu perdamaian mutlak dan wajib untuk terus dibuka bagi siapapun…..salam

  3. @ mas dewo, betul murahan, tapi kalimat terakhir bisa jadi sumbu kompor yg siap disulut tuh hahahahaha

  4. @ Hendrikus Adam, seharusnya kita tetap menjaga untuk tetap menjadi manusia yang tetap beradab, nggak perlu yang namanya rusuh, nggak perlu kekerasan dan bakar2an, percuma kalau itu dilakukan dan itu sama sekali tidak mencerminkan sikap kasih yang seharusnya kita teladani. Salam

  5. Bentaaaarrrr,……
    Kalok sayah ngeliat ada kekeliruan persepsi terhadap lukisan Da Vinci.

    Pertanyaannya adalah:
    Kenapa anda sekaliyan begetoo yakin nyang dilukis Da Vinci adalah Yesus dan rekan-rekannya ???

    Apa betool itu gambar Yesus nyang sesungguhnya ???

    Inget, rentang waktu antara Yesus dan Da Vinci sangat jawuh loooh….

    Jadi kalok nganggep itu pelecehan, (menurut sayah nyang ndak paham Kristen ) kok sangat berlebihan.

    Sebagai gambaran, sayah punya kolega beragama Islam nyang memajang replika lukisan The Last Supper di ruang tamunya. Saat sayah tanya,
    “kenapa kamu sebagai orang Islam kok majang lukisan itu ?”.

    Dia njawab ringan. “Sayah sukak lukisan Da Vinci nyang ini. Sapa bilang itu tampang si Yesus dan santo-santo nya ??? ”
    (hmmm…..)

    (???…)

  6. @ bos Mbel, saya nggak lagi salah persepsi, lha wong da vinci melukis itu kan menurut rekaan dia semata yg dilihat dari segi historis dia pun saat itu berseberangan dengan pihak gereja waktu itu, makanya saya bilang saya ndak akan protes, protes buat apaan. Saya sendiri ngga punya lukisan TLS.
    Buat saya, ada yg harus dibedakan mana iman, mana ideologi dan mana identitas, makanya cover majalah Tempo itu ndak pengaruh buat saya.
    Yg saya sorot adalah kenapa Tempo mengejar sensasi memelesetkan TLS, kenapa ga sekalian aja memelesetkan FPI pasti hasilnya akan lebih dahsyat kan kalau semata-mata dia pengen dilirik pembaca lagi😀 IMHO yg dulu pembaca setia Tempo sekarang ngaku banyak yg udah ga langganan/baca lagi

  7. Hmm….
    Oke dah, kalok getoo….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: