Tuhan Itu Energi??

Sore itu kami janjian ketemu di sebuah warung kopi dibilangan Pancoran. Aku datang duluan, dan baru sekitar limabelas menit kemudian kulihat dia masuk warung. Dia minta maaf karena harus sholat dulu. Kami lalu pindah dari tempat dudukku, dan memilih sofa yang lebih enak untuk ngobrol.

Seperti biasa, perempuan yang duduk di depanku ini kelihatan menarik, matanya selalu hidup memancarkan kecerdasan pikirnya dan sebuah sikap yang penuh rasa percaya diri yang besar, sampai terkadang menjadi terasa agak merendahkan kawan bicaranya. Sore itu bibirnya yang tipis kelihatan agak basah, barangkali menggunakan lip-gloss agak berlebih. Kami mengobrol sana sini tentang teman-teman lain, dan selalu ada kenyamanan ketika menertawakan teman-teman lainnya, entah karena kelucuan ataupun keanehan mereka. Memang terkadang keanehan sama dan sebangun dengan kelucuan.

Kemudian mendadak, ada sedikit jeda dalam obrolan kami. Lalu dengan suara yang sedikit direndahkan seolah khawatir orang lain ikut mendengar, dia bertanya: ”Mas, apakah betul pendapat bahwa Tuhan itu sebuah energi?” Aku hanya terdiam ketika melihatnya menatapku lekat dengan wajah menunggu. Tanpa bermaksud berpretensi, aku sejenak sempat bertanya dalam hati, apakah dia bertanya atau mengajukan sebuah pendapat dan menginginkan aku menyetujui pendapatnya. Setelah beberapa lama, aku kembali bertanya kepadanya, apa yang dia ketahui tentang energi. “Yah, energi, …sebuah kekuatan yang maha dahsyat sehingga dia mempunyai kehendak dan kekuasaan tak terhingga atas kita manusia. Makanya kita harus tunduk dan pasrah pada kehendaknya.”

Aku masih terdiam mendengarkan penjelasannya. Kembali sepintas rasa itu ada, bahwa dia mempunyai sebuah konsep tentang Tuhan, dan pertanyaannya kepadaku adalah untuk membenarkan dan memperkuat pandangannya tentang konsep itu. Mencoba memahami perasaanku itu membuatku menjadi berhati-hati dalam usahaku menjawabnya.

Aku lalu bercerita tentang energi semesta, yang kadang disebut rei-ki, prana, dan Brahman. Dan kemudian juga kuceritakan bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini yang pada dasarnya adalah energi. Bahkan dalam teori sub-atomik atau yang disebut Super String Theory, elemen paling dasar dari semua materi terdiri dari dawai yang senantiasa bergetar, dan getaran itulah energi. Jika semua elemen dalam hidup ini adalah energi, maka kehidupan ini hanya terdiri dari energi, tidak ada yang lain. Baju inipun energi yang termanifestasi dalam bentuk sebuah baju. Meja, air kopi, tubuh manusia, kertas tisu, semuanya adalah energi yang berbeda-beda manifestasinya. Kulihat dia mendengarkan dengan seksama.

“Jadi betul kan mas bahwa Tuhan itu energi, tapi yang jauh lebih besar dari semua energi di dunia ini.” Sebuah pernyataan yang ingin mendapat pembenaran dariku. Aku masih belum menanggapi pernyataan itu secara langsung, karena ada sesuatu yang masih memerlukan pemahaman lebih lanjut: pembedaan energi yang besar dan energi yang kecil, dan energi besar itu lalu disebut Tuhan dan yang kecil itu bukan Tuhan. Ada semacam dualisme yang terciptakan.

Aku lanjutkan ceritaku kepadanya. Bila kita memahami bahwa energi itu merupakan elemen dari semua yang ‘ada’ di dunia ini, maka sebenarnya tidak ada perbedaan antara satu bentuk dengan bentuk lainnya. Hanya manifestasi dari elemen itu yang tercerap oleh inderawi kita, dan itu yang membedakan satu dengan lainnya. Seperti tubuh kita, atau wajahmu yang menarik itu, kataku. Seseorang menangkap wajah itu karena kemampuan sensor penglihatan kita terbatas pada spektrum gelombang tertentu, sehingga manifestasi energi yang diobservasi tergantung dari kemampuan alat observasinya. Seekor elang yang mempunyai kemampuan observasi berbeda dari sensor inderawi kita, akan melihat wajah yang menurut kita cantik dan menarik, berbeda pula. Seekor anjing akan melihat wajah kita juga berbeda, tidak sama dengan apa yang manusia cerap lewat mata kita. Dengan begitu, jika kita berbicara tentang realitas atau kenyataan dalam hidup ini, maka sebenarnya tidak ada realitas itu, karena semua menjadi relatif. Sesuatu yang relatif, bukanlah sebuah realitas. Namun jika energi itu adalah elemen dasar dari semua eksistensi di dunia ini, maka barangkali energi itulah sebuah realitas karena dia tidaklah relatif.

Dia masih diam mendengarkan, dan masih dengan tatapan matanya yang berkilat.

“Nah, sekarang kembali kepada pertanyaanmu semula, apakah Tuhan itu energi?”, kataku. “Jika ada kepercayaan dalam dirimu bahwa Tuhan itu energi, maka semua yang ada di dunia ini adalah Tuhan. Tuhan ada di mana-mana dan menjadi elemen dari setiap eksistensi. Yang tercerap oleh kita hanyalah manifestasi elemen-elemen tersebut, manifestasi Tuhan. Tuhan sendiri, atau elemen itu sendiri, tidak pernah mampu kita persepsikan dengan kemampuan sensorik kita.” Lalu lanjutku, kitapun harus mengingat bahwa elemen sub-atomik itupun masih berupa teori,dan banyak orang mengatakan keberadaan alam sub-atomik itu merupakan fantasi para ilmuwan semata.

“Lalu apa hubungannya antara elemen dasar tadi dengan kekuasaan Tuhan yang demikian besar? Bukankah kita harus tunduk pada kekuasaannya?”

Aneh, perasaan bahwa dia hanya mengemukakan pendapatnya dan aku diperlukan untuk memperkuat pendapatnya itu, muncul kembali. Maka dari itu, sambil kupandangi wajahnya yang menarik, aku cuma tersenyum mendengar pertanyaannya.

Barangkali karena ketidakmampuan kita untuk mencerap dan mencerna elemen dasar kehidupan yang bernama energi ini, namun kita mengetahui bahwa ada sebuah kekuatan yang menghidupi, yang menjadi elemen dari setiap fenomena dalam hidup ini, maka manusia menggambarkannya sebagai sebuah kekuatan besar, sosok Tuhan. Dalam perjalanannya, sosok ini semakin sulit dipahami, namun tetap mempunyai kekuatan hidup yang besar, sehingga kita perlu berlutut menyembahnya.

Sembah, sebuah gerak yang sangat manusiawi ketika keberdayaan kita tidaklah mampu mengatasi keberdayaan sebuah kekuatan di luar diri kita. Barangkali inilah masalahnya, bahwa kita menganggap kekuatan itu berada di luar diri kita, bukan menyatu dalam hidup ini, bukan menjadi elemen dari apa yang kita sebut ‘diri’ ini, bukan menjadi elemen setiap sel dalam kehidupan ini.

Rencana yang semula hanya ngobrol setengah jam karena dia mempunyai kesibukan lain, tidak terasa menjadi hampir tiga jam. Setelah kopi di gelas kami masing-masing seluruhnya pindah tempat ke perut kami, kamipun saling bersalaman untuk berpisah.

Kunikmati Gending2 Palaran Nyi Condrolukito dari kaset player VW kombiku, sambil pelan-pelan jalan kembali ke rumah, “ …. Roso kang satuhu, … rasaning rasa punika, upayanen, dalah pun sampurna, ugi ing kahuripan nira …”

Terbayang pula wajah Ki Ageng Suryomentaram yang dengan sangat menarik menjelaskan filsafat rasa hidup, sebuah rasa yang menjadi dasar bagi kehidupan manusia, dalam ceramahnya di Semarang tahun 1956 yang kemudian dibukukan 20 tahun kemudian.

Jakarta, September 2007

AW/73

Ditulis oleh Agus Widiyanto, seorang teman, teman satu alumni SMA De Britto Yogyakarta beda angkatan, teman milis, teman dalam berdiskusi, teman di mana saya banyak menimba ilmu, teman yang saya kagumi, dan atas seijin beliau tulisan ini saya terbitkan setelah sebelumnya hanya diperbincangkan dalam milis tertutup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: