Jalur Pantura Menjelang Arus Mudik

Puasa sudah memasuki hari ke-7 dan 3 minggu lagi sebagian besar karyawan di Indonesia akan memperoleh libur hari raya Idul Fitri. Berbicara mengenai hari raya Idul Fitri selalu tak lepas dengan yang namanya mudik lebaran. Fenomena mudik ini selalu menarik untuk di simak. Sebagian umat muslim merasa belum lengkap seandainya belum mudik bertemu dengan sanak keluarganya di kampung halaman untuk silaturahim. Jadi jalan apa saja akan ditempuh supaya mereka bisa sampai kampung halamannya.

Seperti kita tahu tiket pesawat dan tiket kereta api eksekutif memasuki awal masa puasa saja dikabarkan telah habis terjual untuk tanggal 25 September ke atas hingga tanggal 30 September, dan PT KAI tidak akan melayani penjualan tiket saat keberangkatan kereta, dan harganya pun sungguh fantastis dan mencengangkan. Kereta Eksekutif Argo Anggrek dijual sekitar Rp. 450.000,-, Argo Muria, Argo Lawu, Taksaka dijual berkisar Rp. Rp. 375.000 hingga Rp. 400.000,-. Bayangkan jika satu keluarga jumlah anggota keluarganya ada 4 atau 5 orang yang dibawa, berapakah jumlah dana yang mesti dikeluarkan untuk biaya transportasinya saja.

Untuk pesawat terbang bagaimana? Jangan bayangkan pula berapa harga tiket untuk pesawat terbang. Masa keemasan Low Cost Carrier sudah berakhir dan tak ada tiket murah lagi. Harga tiket saat ini melambung 2 sampai 3 kali dari harga tiket saat LCC masih ada, dan untuk musim libur lebaran ini kemungkin besar harga akan melambung sedikitnya 2 kali lipat dari harga tiket saat ini. Meski begitu tetep saja tiket pesawat juga sudah sold out 😛 untuk tanggal2 keberangkatan tersebut di atas.

Moda transportasi alternatif lain masih ada bus AKAP, carter mobil, mobil pribadi dan tentu saja ‘si sensasional sepeda motor’ yang jumlahnya luar biasa. Oh iya di sini saya tidak membahas yang namanya kapal laut dan pokok bahasan saya persempit untuk wilayah Jawa saja.

Berbicara masalah moda transpoertasi darat selain kereta api tentu tidak akan lepas dari infrastruktur yang namanya jalan raya. Bagi saya yang kebetulan ‘rajin’ hilir mudik lewat jalur pantura, kondisinya saat ini membuat saya agak was-was. Bagaimana tidak was-was, sampai dengan saat ini pengerjaan ruas jalur pantura baik berupa perbaikan jalan dan jembatan maupun pengerjaan pelebaran jalan masih belum selesai juga, padahal waktu kian mendesak.

Seperti pernah disampaikan oleh Menhub, perbaikan jalur Pantura diharapkan selesai pada H-20 menjelang hari raya Idul Fitri 1429 H. Menhub pun meminta kepada para kontraktor untuk mempercepat perbaikan jalan agar pada puncak arus mudik arus lalu lintas tidak tersendat. Namun melihat kondisi lapangan saat ini (7/9/2008), akan sulit untuk mencapai target yang telah ditetapkan oleh Menhub.

Jalur utama merupakan rute utama yang akan dipakai pemudik untuk menuju kampung halamannya. Di sini berbagai moda transportasi darat dari kendaraan besar hingga sepeda motor akan tupah ruah. Saya pribadi sebagai orang yang merencakan liburan kali ini juga akan memakai jalur tersebut sebagai jalur menuju tempat tujuan saya. Kecemasan saya ini sebenarnya cukup beralasan, karena diperkirakan jumlah pemudik tahun ini akan meningkat dibandingkan dengan tahun lalu. So kalau jumlah pemudik meningkat sementara prasarana jalan masih belum selesai dikerjakan apa yang bakal kejadian?? traffic jam yang parahlah yang bakal terjadi.

Saat ini saja lubang galian di pinggir-pingir jalan pantura yang sedang diperlebar masih menganga, kalau kondisi ini dibiarkan tentu saja akan sangat membahayakan pengendara yang lewat.

Kondisi arus balik kemungkinan besar akan dimulai sekitar tanggal 19 september. Ini merupakan warning bagi para kontraktor yang mengerjakan proyek perbaikan dan pelebaran jalan di pantura untuk segera berbenah secepat mungkin, menyelesaikan pekerjaan yang telah ditentukan atau paling lambat paruh ketiga minggu ini untuk menyelesaikan tanpa mengurangi kualitas jalan yang telah disaratkan. Dan Mudah-mudahan pada paruh ketiga minggu ini seluruh perbaikan dan pelebaran jalanan pantura sudah selesai seluruhnya dan para pemudik yang akan mempergunakan jalan tersebut bisa tenang dan nyaman saat melintasinya.

Menyoal Cover Majalah Tempo

Posted by: "Goenawan Mohamad"
Tue Feb 5, 2008 5:58 pm (PST)

Tentu tidak ada maksud majalah TEMPO untuk melukai hati orang Kristen, tetapi tidak berarti tidak ada yang salah dalam gambar itu. Menurut hemat saya, menggunakan tema "Perjamuan Terakhir" dalam karya Leonardo da Vinci jadi dasar tema kepergian Suharto sama sekali tidak tepat. Tema dan suasana "Perjamuan Terakhir" dalam lukisan itu adalah kesedihan, keprihatinan dan kerelaan di antara mereka yang tak punya apa-apa. Sedang justru itu yang tak ada di hari terakhir Suharto. Suharto tidak mati disalib. Juga saya ragu apakah kematiannya akan melahirkan keyakinan baru. Dan yang jelas, yang dibagi-bagikannya (dan dinikmati anak-anaknya) bukanlah potongan roti dan beberapa reguk anggur, melainkan kekayaan yang berlimpah-limpah, yang didapat karena kekuasaan politik

Saya senang bahwa ada protes tapi tak ada kekerasan. Saya senang bahwa dengan tulus pimpinan TEMPO minta maaf, dan Sekjen KWI memberikan maafnya. Itu tanda kita masih bersedia menjaga peradaban.

Ya itulah kata arif dari seorang Goenawan Muhammad tentang kontroversi cover majalah Tempo tentang Soeharto.

Sebagai seorang katolik , saya pun nggak akan protes tentang pemuatan cover itu, mestinya kalau ada yang protes  yang berhak adalah keturunan daripada Leonardo Da Vinci. Cover itu hanya menunjukkan bahwa majalah Tempo mulai nggak menarik, mulai ditinggalkan pembacanya sehingga perlu untuk mencari-cari sensasi untuk menarik orang melirik kembali. Tapi pemelesetan lukisan The Last Supper itu terlalu dangkal dan salah arah dilihat dari latar belakang dari kedua peristiwa yang sangat jauh berbeda. Maka sudah selayaknya kita bertanya kepada majalah Tempo, apa yang sebenarnya kalian cari.

Beruntung bahwa saya tidak termasuk orang yang mudah terpancing hal-hal kaya gini. Bagi saya yang terpenting adalah kita harus mampu membedakan masalah iman, ideologi dan identitas. Kalau kita mencampur adukkan ketiga hal tersebut maka pasti hanya kekisruhan yang bakal terjadi. Jadi sekali lagi saya tidak akan protes dengan cover majalah Tempo, protes buat apaan, biarkan saja. Buat Majalah Tempo terbitkan lagi majalahmu tapi jangan dengan sensasi yang ngga ada korelasinya ya, itu murahan.